Dibalik Mundurnya Seorang Dirjen Pajak

p sigit

Sigit Priadi Pramudito

Flash back ke awal pelaksanaan seleksi Dirjen Pajak 2015 yang diadakan pertama kalinya dalam sejarah,  dimasa yang penuh dengan intrik dan nuansa politis. Dengan style beliau seperti layaknya seorang pejabat tinggi yang berkesan berwibawa, pendiam dan penuh kharisma, namun jauh dari kesan lebay, arogan dan tidak terlalu menonjolkan diri. Kesan tersebut kian tergambar jelas saat rapat dengan petinggi lainnya membahas penerimaan akhir tahun yang sedang gencar-gencarnya.

Saat yang dinanti akhirnya tiba: Jumat, 6 Feb 2015, Presiden RI Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden yang menunjuk Bapak Sigit Priadi Pramudito untuk menjadi Dirjen Pajak. Posisi yang begitu strategis dan vital dalam menentukan keberlangsungan pembangunan nasional. Hal yang sesuai dengan prediksi banyak pihak bahwa beliaulah ”The Next DJP I”. Selain memiliki kapasitas yang mumpuni , pengalaman yang segudang juga hubungan relasi yang kuat secara eksternal maupun internal, dengan bawahan dan atasan maupun stakeholders lain. Beliau merupakan sosok yang egaliter, suka bersosialisasi dan membagi pengalaman serta pintar dalam memberikan inspirasi dan memotivasi kami yang masih muda belia, seorang tokoh yang telah membuat suatu sejarah baru di dunia perpajakan dan dunia birokrasi di Indonesia.

First day at work, Senin, 9 Feb 2015. Sudah menjadi tradisi saat seorang pejabat baru masuk akan membuat perubahan besar, membawa tim dan cara kerja baru. Dalam hati kami juga bertanya-tanya bagaimana nasib kami selanjutnya namun kami telah siap jika diperintahkan menuju tempat baru. Namun beliau berkehendak lain, beliau ingin mempertahankan tim yang sudah terbentuk, dan hanya akan menambah staf jika diperlukan. Cara kerja yang diperkenalkan beliau juga sangat efisien. Dengan standar maksimal 2 hari kerja untuk pekerjaan administratif  dan jadwal beliau yang tidak diperkenankan untuk kosong.

Roda organisasi langsung berputar cepat, dalam bulan pertama langsung diagendakan rapimnas dan beberapa Board of Directors meeting, pembenahan berbagai aturan perpajakan,  serta road show ke berbagai daerah. Dukungan dari internal dan eksternal kian mengalir dan klimaksnya terjadi pada tanggal 19 Maret 2015 dimana Presiden RI mengeluarkannya Perpres Nomor 37 tahun 2015 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sebagai bentuk dukungan bagi DJP yang selama ini dibelenggu haknya oleh pihak yang tidak suka jika DJP maju.

Rutinitas yang begitu padat sempat membuat kesehatan beliau sedikit menurun, dengan puncaknya terjadi di “pesta duren” Medan tanggal 28 Agustus 2015.  Semenjak itu, setiap kami yang bertugas mengawal beliau ditugaskan secara khusus untuk melobi panitia agar tidak menghidangkan masakan yang mengandung kolesterol tinggi.  Walaupun usaha kami ini kadang berhasil kadang tidak.

Keseharian beliau jauh dari kesan formal sebagai pejabat tinggi. dengan bermodalkan rokok “LA Light Merah”di kantong, beliau senang berinteraksi dengan berbagai kalangan, dari kalangan bawah, rekan kerja sampai anggota DPR. Sebagai sosok ayah dari tiga orang anak, beliau selalu mengutamakan waktu untuk keluarga, hal yang terbawa pada sistem kerja pegawai di kantor. Kami tidak diperbolehkan pulang malam kalau kondisi tidak mendesak. Kontroversi terbitnya INS-02 dan INS-03 lahir dari tuntutan target yang tinggi dan tekanan dari berbagai pihak yang cemburu, namun dengan dinamika yang ada termasuk adanya gerakan “ketapel” dan “non ketapel”, beliau sebagai seorang pemimpin yang bijak, walaupun banyak dikritik oleh pihak eksternal, akhirnya membatalkan instruksi tersebut dengan INS-04 yang mengembalikan jam kerja pegawai sesuai dengan UU ASN.

Pengunduran diri beliau sebagai Dirjen Pajak pada tanggal 1 Des 2015, sangat mengejutkan sekaligus banyak disesali banyak pihak, terlihat dari berbagai komentar para petinggi negeri sampai pegawai DJP yang terekam di media massa dan media sosial. Pujian dan tanda terima kasih banyak mengalir atas integritas beliau selama berkarier di DJP, yang berhasil membangun fondasi yang kuat sebagai modal kami untuk tahun-tahun mendatang.  #terimakasihpaksigit ,hashtag di twitter, seorang pioneer birokrat yang berani bertanggung jawab atas segala amanah yang diberikan, kami masih menunggu karyamu selanjutnya untuk negri.

Flash back ke awal pelaksanaan seleksi Dirjen Pajak 2015 yang diadakan pertama kalinya dalam sejarah,  dimasa yang penuh dengan intrik dan nuansa politis. Dengan style beliau seperti layaknya seorang pejabat tinggi yang berkesan berwibawa, pendiam dan penuh kharisma, namun jauh dari kesan lebay, arogan dan tidak terlalu menonjolkan diri. Kesan tersebut kian tergambar jelas saat rapat dengan petinggi lainnya membahas penerimaan akhir tahun yang sedang gencar-gencarnya.

Saat yang dinanti akhirnya tiba: Jumat, 6 Feb 2015, Presiden RI Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden yang menunjuk Bapak Sigit Priadi Pramudito untuk menjadi Dirjen Pajak. Posisi yang begitu strategis dan vital dalam menentukan keberlangsungan pembangunan nasional. Hal yang sesuai dengan prediksi banyak pihak bahwa beliaulah ”The Next DJP I”. Selain memiliki kapasitas yang mumpuni , pengalaman yang segudang juga hubungan relasi yang kuat secara eksternal maupun internal, dengan bawahan dan atasan maupun stakeholders lain. Beliau merupakan sosok yang egaliter, suka bersosialisasi dan membagi pengalaman serta pintar dalam memberikan inspirasi dan memotivasi kami yang masih muda belia, seorang tokoh yang telah membuat suatu sejarah baru di dunia perpajakan dan dunia birokrasi di Indonesia.

First day at work, Senin, 9 Feb 2015. Sudah menjadi tradisi saat seorang pejabat baru masuk akan membuat perubahan besar, membawa tim dan cara kerja baru. Dalam hati kami juga bertanya-tanya bagaimana nasib kami selanjutnya namun kami telah siap jika diperintahkan menuju tempat baru. Namun beliau berkehendak lain, beliau ingin mempertahankan tim yang sudah terbentuk, dan hanya akan menambah staf jika diperlukan. Cara kerja yang diperkenalkan beliau juga sangat efisien. Dengan standar maksimal 2 hari kerja untuk pekerjaan administratif  dan jadwal beliau yang tidak diperkenankan untuk kosong.

Roda organisasi langsung berputar cepat, dalam bulan pertama langsung diagendakan rapimnas dan beberapa Board of Directors meeting, pembenahan berbagai aturan perpajakan,  serta road show ke berbagai daerah. Dukungan dari internal dan eksternal kian mengalir dan klimaksnya terjadi pada tanggal 19 Maret 2015 dimana Presiden RI mengeluarkannya Perpres Nomor 37 tahun 2015 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sebagai bentuk dukungan bagi DJP yang selama ini dibelenggu haknya oleh pihak yang tidak suka jika DJP maju.

Rutinitas yang begitu padat sempat membuat kesehatan beliau sedikit menurun, dengan puncaknya terjadi di “pesta duren” Medan tanggal 28 Agustus 2015.  Semenjak itu, setiap kami yang bertugas mengawal beliau ditugaskan secara khusus untuk melobi panitia agar tidak menghidangkan masakan yang mengandung kolesterol tinggi.  Walaupun usaha kami ini kadang berhasil kadang tidak.

Keseharian beliau jauh dari kesan formal sebagai pejabat tinggi. dengan bermodalkan rokok “LA Light Merah”di kantong, beliau senang berinteraksi dengan berbagai kalangan, dari kalangan bawah, rekan kerja sampai anggota DPR. Sebagai sosok ayah dari tiga orang anak, beliau selalu mengutamakan waktu untuk keluarga, hal yang terbawa pada sistem kerja pegawai di kantor. Kami tidak diperbolehkan pulang malam kalau kondisi tidak mendesak. Kontroversi terbitnya INS-02 dan INS-03 lahir dari tuntutan target yang tinggi dan tekanan dari berbagai pihak yang cemburu, namun dengan dinamika yang ada termasuk adanya gerakan “ketapel” dan “non ketapel”, beliau sebagai seorang pemimpin yang bijak, walaupun banyak dikritik oleh pihak eksternal, akhirnya membatalkan instruksi tersebut dengan INS-04 yang mengembalikan jam kerja pegawai sesuai dengan UU ASN.

Pengunduran diri beliau sebagai Dirjen Pajak pada tanggal 1 Des 2015, sangat mengejutkan sekaligus banyak disesali banyak pihak, terlihat dari berbagai komentar para petinggi negeri sampai pegawai DJP yang terekam di media massa dan media sosial. Pujian dan tanda terima kasih banyak mengalir atas integritas beliau selama berkarier di DJP, yang berhasil membangun fondasi yang kuat sebagai modal kami untuk tahun-tahun mendatang.  #terimakasihpaksigit ,hashtag di twitter, seorang pioneer birokrat yang berani bertanggung jawab atas segala amanah yang diberikan, kami masih menunggu karyamu selanjutnya untuk negri.

Advertisements
Categories: Tax Corner | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: